LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO KANKER
SERVIKS PADA ASUHAN KEPERAWATAN
KELUARGA
A.
KONSEP
KELUARGA
1. Keluarga
a. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan
oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya yang umum: meningkatkan perkembangan fisik, mental,
emosional dan sosial dari tiap keluarga. (Harmoko, 2012)
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan
perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan,
mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental emosional
serta sosial dari tiap anggota keluarga. (Setyowati, 2008)
b. Struktur
Keluarga
Macam-macam
struktur keluarga menurut Harmoko (2012),
yaitu sebagai berikut:
1) Patrilineal
adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa
generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah.
2) Matrialineal
adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam beberapa generasi
dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
3) Matrilokal
adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
4) Patrilokal
adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
5) Keluarga
kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan
beberapa anak saudara yang menjadi keluarga karena adanya hubungan dengan suami
atau istri.
c. Tipe
Keluarga
Menurut
Setyowati (2008),
tipe keluarga dibagi menjadi 2 yaitu:
1) Tipe
keluarga tradisional
a) Keluarga
inti yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri, dan anak (kandung
atau angkat).
b) Keluarga
besar yaitu keluarga inti ditambah dengan keluarga lain yang mempunyai hubungan
darah, misalnya: kakek, nenek, keponakan, paman, bibi.
c) Keluarga
“Dyad” yaitu suatu rumah tangga yang
terdiri dari suami dan istri tanpa anak.
d) Single Parent
yaitu suatu rumah tangga yang terdiri satu orang tua (ayah/ ibu) dengan anak
(kandung/ angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.
e) Single Adult
yaitu suatu rumah tangga yang hanya terdiri seorang dewasa (misalnya seorang
telah dewasa kemudian tinggal di kost untuk bekerja atau kuliah.
2) Tipe
Keluarga non tradisional
a)
The
unmarriedteenege mather
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu)
dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
b)
The
steparrent family
Keluarga
dengan orang tua tiri.
c)
Commune
family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang
tidak ada hubungan saudara hidup bersama satu rumah , sumber dan fasilitas yang
sama.
d)
Gay
and lesbian family
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama
sebagaimana suami-istri.
e)
The
non marital heterosexual cohibitang family
Keluarga yang hidup bersama dan berganti-ganti
pasangan tanpa melalui pernikahan.
f)
Cohabiting
couple
Orang dewasa yang hidup bersama di luar ikatan
perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
g)
Group-marriage
family
Beberapa orang dewasa menggunakan alat-alat rumah
tangga bersama yang saling merasa sudah menikah, berbagi sesuatu termasuk
sexual dan membesarkan anaknya.
d. Fungsi
Keluarga
Menurut Setyowati
(2008), fungsi keluarga secara
umum adalah:
1) Fungsi
afektif: fungsi yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan
anggota keluarga berhubungan dengan orang lain.
2) Fungsi
sosialisasi: fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk kehidupan sosial
sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
3) Fungsi
reproduksi: fungsi untuk mempertahankan generasi.
4) Fungsi
ekonomi: fungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi.
5) Fungsi
pemeliharaan atau pemeliharaan kesehatan: fungsi untuk mempertahankan keadaan
kesehatan anggota keluarga.
e. Tugas
Keluarga dalam bidang kesehatan
Menurut Friedmann dalam Setyowati (2008), tugas kesehatan
keluarga ada 5 yaitu:
1) Mengenal
masalah kesehatan.
2) Membuat
keputusan tindakan kesehatan yang tepat.
3) Memberi
perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
4) Mempertahankan
atau menciptakan suasana rumah yang sehat.
5) Mempertahankan
hubungan dengan menggunakan fasilitas kesehatan masyarakat.
f. Tahap
Perkembangan Keluarga
Menurut Suprajitno (2012), tahap perkembangan
keluarga yaitu sebagai berikut:
1) Keluarga
baru menikah
Tugas
perkembangan tahap ini yaitu:
a) Membina
hubungan intim yang memuaskan
b) Membina
hubungan dengan keluarga lain, teman, dan kelompok sosial
c) Mendiskusikan
rencana memiliki anak.
2) Keluarga
dengan anak baru lahir
Tugas perkembangan
tahap ini:
a) Mempersiapkan
menjadi orang tua
b) Adaptasi
dengan perubahan adanya anggota keluarga, interaksi keluarga, hubungan seksual
dan kegiatan
c) Mempertahankan
hubungan dalam rangka memuaskan pasangannya.
3) Keluarga
dengan anak usia pra-sekolah
Tugas perkembangan saat
ini:
a) Memenuhi
kebutuhan anggota keluarga, misal kebutuhan tempat tinggal, privasi, dan rasa
aman
b) Membantu
anak untuk bersosialisasi
c)
Beradaptasi
dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain (tua) juga
harus terpenuhi
d) Mempertahankan
hubungan yang sehat, baik di dalam atau di luar keluarga (keluarga lain dan
lingkungan sekitar)
e) Pembagian
waktu untuk individu, pasangan, dan anak (biasanya keluarga mempunyai tingkat
kerepotan yang tinggi)
f) Pembagian
tanggung jawab anggota keluarga
g) Merencanakan
kegiatan dan waktu untuk menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak
4) Keluarga
dengan usia sekolah
Tugas
perkembangan saat ini :
a) Membantu
sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah, sekolah, dan lingkungan lebih
luas (yang tidak atau kurang diperoleh dari sekolah atau masyarakat)
b) Mempertahankan
keintiman pasangan
c) Memenuhi
kebutuhan yang meningkat, termasuk biaya
kehidupan dan kesehatan anggota keluarga
5) Keluarga
dengan anak remaja
Tugas
perkembangan saat ini :
a) Memberikan
kebebasan yang seimbang dan bertanggungjawab mengingat remaja adalah seorang
dewasa muda dan mulai memiliki otonomi
b) Mempertahankan
hubungan intim dalam keluarga
c) Mempertahankan
komunikasi terbuka antara anak dan orangtua.
d) Hindarkan
terjadinya perdebatan, kecurigaan, dan permusuhan
e) Mempersiapkan
perubahan sistem peran dan peraturan (anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan
tumbuh kembang anggota keluarga)
6) Keluarga
mulai melepas anak sebagai dewasa
Tugas
perkembangan saat ini:
a) Memperluas
jaringan keluarga dari keluarga inti menjadi keluarga besar
b) Mempertahankan
keintiman pasangan
c) Membantu
anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat
d) Penataan
kembali peran orang tua dan kegiatan di rumah
7) Keluarga
usia pertengahan
Tugas
perkembangan saat ini:
a)
Mempertahankan kesehatan
individu dan pasangan usia pertengahan
b)
Mempertahankan hubungan
yang serasi dan memuaskan dengan anak-anaknya dan sebaya
c)
Meningkatkan keakraban
pasangan
8) Keluarga
usia tua
Tugas
perkembangan saat ini:
a) Mempertahankan
suasana kehidupan rumah tangga yang saling menyenangkan pasangannya
b) Adaptasi
dengan perubahan yang akan terjadi: kehilangan pasangan, kekuatan fisik, dan
penghasilan keluarga
c) Mempertahankan
keakraban pasangan dan saling merawat
d) Melakukan
life review masa lalu.
B.
Latar Belakang
Kanker Leher Rahim (Kanker
Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim atau serviks
(bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina). Kanker serviks
biasanya menyerang wanita berusia 35 - 55 tahun. 90% dari kanker serviks
berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari
sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim.
Karsinoma serviks biasanya timbul pada zona transisional yang terletak antara
epitel sel skuamosa dan epitel sel kolumnar. Hingga saat ini kanker serviks
merupakan penyebab kematian terbanyak akibat penyakit kanker di negara
berkembang. Sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah bila program skrining
sitologi dan pelayanan kesehatan diperbaiki. Diperkirakan setiap tahun dijumpai
sekitar 500.000 penderita baru di seluruh dunia dan umumnya terjadi di negara
berkembang. Penyakit ini berawal dari infeksi virus yang merangsang perubahan
perilaku sel epitel serviks (Geovani, 2011).
Kanker leher rahim (Ca
Cervix) merupakan penyakit kanker kedua terbanyak yang dialami oleh wanita di
seluruh dunia. Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), 85%
dari kasus kanker di dunia, yang berjumlah sekitar 493.000 dengan 273.000
kematian, terjadi di Negara-negara berkembang, dan Indonesia merupakan
mempunyai jumlah pengidap kanker serviks kedua terbesar setelah Cina.
Di seluruh dunia, di
perkirakan terjadi sekitar 500.000 kanker serviks baru dan 250.000 kematian
setiap tahunnya yang kurang lebih 80% terjadi di negara sedang berkembang. Di
Indonesia, insidens kanker serviks di perkirakan kurang lebih 40.000 kasus
pertahun dan masih merupakan kanker wanita yang tersering. Dari jumlah itu, 50%
kematian terjadi di negara - negara berkembang. Hal itu terjadi karena pasien
datang dalam stadium lanjut. Menurut data Departemen Kesehatan RI, penyakit
kanker leher rahim saat ini menempati urutan pertama daftar kanker yang di
derita kaum wanita. Saat ini di Indonesia ada sekitar 100 kasus per 100 ribu
penduduk atau 200 ribu kasus setiap tahunnya. Kanker serviks yang sudah masuk
ke stadium lanjut sering menyebabkan kematian dalam jangka waktu relatif cepat.
Selain itu, lebih dari 70% kasus yang datang ke rumah sakit di temukan dalam
keadaan stadium lanjut. Selama kurun waktu 5 tahun, usia penderita antara 30 -
60 tahun, terbanyak antara 45 - 50 tahun. Periode laten dari fase prainvasif
untuk menjadi invasif memakan waktu sekitar 10 tahun. Hanya 9% dari wanita
berusia <35 tahun menunjukkan kanker serviks yang invasif pada saat di
diagnosis, sedangkan 53% dari kanker insitu terdapat pada wanita di bawah usia
35 tahun.
C.
Definisi Kanker Serviks
Kanker serviks adalah
karsinoma pada leher rahim dan menempati urutan pertama di dunia.
(Sjamjuhidayat, 2005). Kanker serviks adalah keganasan nomor tiga paling sering
dari alat kandungan dan menempati urutan ke delapan dari keganasan pada
perempuan di Amerika (Yatim, 2005). Kanker serviks
adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari
adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal
di sekitarnya (FKUI, 2011). Kanker serviks
adalah keadaan di mana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan epitel
serviks uteri.(Price dan Wilson, 1995) Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa kanker
serviks adalah kanker leher rahim yang paling ganas dari beberapa kanker pada
wanita yang lain.
D.
Etiologi dan Faktor Resiko
Etiologi kanker servik
idiopatik atau belum diketahui pasti. Ada beberapa faktor resiko dan faktor
predisposisi yang menonjol yaitu :
1.
Perilaku seksual
Banyak faktor yang disebut
- sebut mempengaruhi terjadinya kanker serviks. Pada berbagai penelitian
epidemiologi menunjukkan bahwa golongan wanita yang mulai melakukan hubungan
seksual pada usia < 20 tahun atau mempunyai pasangan seksual yang
berganti-ganti lebih berisiko untuk menderita kanker serviks. Faktor risiko
lain yang penting adalah hubungan seksual suami dengan wanita tuna susila (WTS)
dan dari sumber itu membawa penyebab kanker (karsinogen) kepada isterinya. Data
epidemiologi yang tersusun sampai akhir abad 20, menyingkap kemungkinan adanya
hubungan antara kanker serviks dengan agen yang dapat menimbulkan infeksi.
Keterlibatan peranan pria terlihat dari adanya korelasi antara kejadian kanker
serviks dengan kanker penis di wilayah tertentu. Lebih jauh meningkatnya
kejadian tumor pada wanita monogami yang suaminya sering berhubungan seksual
dengan banyak wanita lain menimbulkan konsep “Pria Berisiko Tinggi” sebagai
vektor dari agen yang dapat menimbulkan infeksi. Banyak penyebab yang dapat
menimbulkan kanker serviks, tetapi penyakit ini sebaiknya digolongkan ke dalam
penyakit akibat hubungan seksual (PHS). Penyakit kelamin dan keganasan serviks
keduanya saling berkaitan secara bebas, dan diduga terdapat korelasi non-kausal
antara beberapa penyakit akibat hubungan seksual dengan kanker serviks.
- Kontrasepsi
Kondom dan diafragma dapat
memberikan perlindungan. Kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka panjang
yaitu lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan risiko relatif 1,53 kali. WHO
melaporkan risiko relatif pada pemakaian kontrasepsi oral sebesar 1,19 kali dan
meningkat sesuai dengan lamanya pemakaian.
- Merokok
Tembakau mengandung
bahan-bahan karsinogen baik yang dihisap sebagai rokok/sigaret atau dikunyah.
Asap rokok menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon heterocyclic
nitrosamines. Pada wanita perokok konsentrasi nikotin pada getah serviks 56
kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum. Efek langsung bahan-bahan
tersebut pada serviks adalah menurunkan status imun lokal sehingga dapat
menjadi kokarsinogen infeksi virus.
- Nutrisi
Antioksidan dapat
melindungi DNA atau RNA terhadap pengaruh buruk radikal bebas yang terbentuk
akibat oksidasi karsinogen bahan kimia. Banyak sayur dan buah mengandung
bahan-bahan antioksidan dan berkhasiat mencegah kanker misalnya advokat,
brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat. Dari beberapa
penelitian ternyata defisiensi asam folat (folic acid), vitamin C, vitamin E,
beta karoten/retinol dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker serviks.
Vitamin E, vitamin C dan beta karoten mempunyai khasiat antioksidan yang kuat.
Vitamin E banyak terdapat dalam minyak nabati (kedelai, jagung, biji-bijian dan
kacang - kacangan). Vitamin C banyak terdapat dalam sayur-sayuran dan
buah-buahan.
- Paritas (Jumlah Kelahiran)
Semakin tinggi risiko pada
wanita dengan banyak anak, apalagi dengan jarak persalinan yang terlalu pendek.
Dari berbagai literatur yang ada, seorang perempuan yang sering melahirkan
(banyak anak) termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena penyakit kanker
leher rahim. Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan berdampak pada
seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksinya yang akhirnya dampak dari
luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human Papilloma Virus (HPV) sebagai
penyebab terjadinya penyakit kanker leher rahim.
- Usia >35 tahun
Usia > 35 tahun
mempunyai risiko tinggi terhadap kanker leher rahim. Semakin tua usia
seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker laher rahim.
Meningkatnya risiko kanker leher rahim pada usia lanjut merupakan gabungan dari
meningkatnya dan bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta
makin melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat usia.
- Usia terlalu muda
Menikah pada usia kurang
20 tahun dianggap terlalu muda untuk melakukan hubungan seksual dan berisiko
terkena kanker leher rahim 10 - 12 kali lebih besar daripada mereka yang
menikah pada usia > 20 tahun. Hubungan seks idealnya dilakukan setelah
seorang wanita benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat dari
sudah menstruasi atau belum. Kematangan juga bergantung pada sel-sel mukosa
yang terdapat di selaput kulit bagian dalam rongga tubuh. Umumnya sel - sel
mukosa baru matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang
wanita yang menjalin hubungan seks pada usia remaja, paling rawan bila
dilakukan di bawa h usia 16 tahun. Hal ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa
pada serviks. Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang.
Artinya, masih rentan terhadap rangsangan sehingga tidak siap menerima
rangsangan dari luar termasuk zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena masih
rentan, sel-sel mukosa bisa berubah sifat menjadi kanker. Sifat sel kanker
selalu berubah setiap saat yaitu mati dan tumbuh lagi. Dengan adanya
rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel yang mati, sehingga
perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah sifat
menjadi sel kanker. Lain halnya bila hubungan seks dilakukan pada usia di atas
20 tahun, dimana sel-sel mukosa tidak lagi terlalu rentan terhadap perubahan.
E.
Patofisiologi
Kanker serviks biasa timbul
di daerah yang disebut squamo - columnar junction (SCJ), yaitu batas antara
epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis serviks,
dimana secara histologik terjadi perubahan dari epitel ektoserviks yaitu epitel
skuamosa berlapis dengan epitel endoserviks yaitu epitel kuboid atau kolumnar
pendek selapis bersilia. Letak SCJ dipengaruhi oleh faktor usia, aktivitas
seksual dan paritas. Pada wanita muda SCJ berada di luar ostium uteri
eksternum, sedangkan pada wanita berusia di atas 35 tahun SCJ berada di dalam
kanalis serviks, Oleh karena itu pada wanita muda, SCJ yang berada di luar
ostium uteri eksternum ini rentan terhadap faktor luar berupa mutagen yang akan
displasia dari SCJ tersebut. Pada wanita dengan aktivitas seksual tinggi, SCJ
terletak di ostium eksternum karena trauma atau retraksi otot oleh
prostaglandin.
Pada masa kehidupan wanita
terjadi perubahan fisiologis pada epitel serviks, epitel kolumnar akan
digantikan oleh epitel skuamosa yang diduga berasal dari cadangan epitel
kolumnar. Proses pergantian epitel kolumnar menjadi epitel skuamosa disebut
proses metaplasia dan terjadi akibat pengaruh pH vagina yang rendah. Aktivitas
metaplasia yang tinggi sering dijumpai pada masa pubertas. Akibat proses
metaplasia ini maka secara morfogenetik terdapat 2 SCJ, yaitu SCJ asli dan SCJ
baru yang menjadi tempat pertemuan antara epitel skuamosa baru dengan epitel
kolumnar. Daerah di antara kedua SCJ ini disebut daerah transformasi.
Penelitian akhir-akhir ini
lebih memfokuskan virus sebagai salah satu factor penyebab yang penting,
terutama virus DNA. Pada proses karsinogenesis asam nukleat virus tersebut
dapat bersatu ke dalam gen dan DNA sel tuan rumah sehingga menyebabkan
terjadinya mutasi sel, sel yang mengalami mutasi tersebut dapat berkembang
menjadi sel displastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut displasia.
Dimulai dari displasia ringan, displasia sedang, displasia berat dan karsinoma
in-situ dan kemudian berkembang menjadi karsinoma invasif. Tingkat displasia
dan karsinoma in-situ dikenal juga sebagai tingkat pra-kanker.
(Sjamsuhidajat,1997)
F.
Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala stadium
awal Ca Serviks jarang terdeteksi. Pada tahap lanjut, tanda dan gejalanya lebih
jelas terlihat, diantaranya adalah:
- Perdarahan spontan
- Hematuria
- Nyeri pada pinggang bagian bawah
- Keluar keputihan atau cairan encer dari kelamin wanita
- Amenorhea
- Lemah
- Hipermenorhea (Mardjikoen, 1999)
G. Komplikasi
1. Fistula uretra
2. Disfungsi kandung kemih
3. Anemia trombositopenis
4. Mual,muntah, anoreksia
5. Infeksi pelvis
6. Sistitis dan kulit kering
7. Fistula rektovaginal. (Mardjikoen, 1999)
H. Penatalaksanaan Medis
1. Pengobatan
a. Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas
pada lapisan serviks paling luar), seluruh kanker sering kali dapat diangkat
dengan bantuan pisau bedah ataupun melalui LEEP (loop electrosurgical excision
procedure) atau konisasi. Dengan pengobatan tersebut, penderita masih bisa
memiliki anak. Karena kanker bisa kembali kambuh, dianjurkan untuk menjalani
pemeriksaan ulang dan Pap smear setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan
selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil
lagi, dianjurkan untuk menjalani histerektomi. Pembedahan merupakan salah satu terapi
yang bersifat kuratif maupun paliatif. Kuratif adalah tindakan yang langsung
menghilangkan penyebabnya sehingga manifestasi klinik yang ditimbulkan dapat
dihilangkan. Sedangkan tindakan paliatif adalah tindakan yang berarti
memperbaiki keadaan penderita. Histerektomi adalah suatu tindakan pembedahan
yang bertujuan untuk mengangkat uterus dan serviks (total) ataupun salah
satunya (subtotal). Biasanya dilakukan pada stadium klinik IA sampai IIA
(klasifikasi FIGO). Umur pasien sebaiknya sebelum menopause, atau bila keadaan
umum baik, dapat juga pada pasien yang berumur kurang dari 65 tahun. Pasien
juga harus bebas dari penyakit umum (resiko tinggi) seperti penyakit jantung,
ginjal dan hepar (Tapan, 2005).
b. Terapi penyinaran (radioterapi)
Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel
tumor pada serviks serta mematikan parametrial dan nodus limpa pada pelvik.
Kanker serviks stadium II B, III, IV sebaiknya diobati dengan radiasi. Metoda
radioterapi disesuaikan dengan tujuannya yaitu tujuan pengobatan kuratif atau
paliatif. Pengobatan kuratif ialah mematikan sel kanker serta sel yang telah
menjalar ke sekitarnya atau bermetastasis ke kelenjar getah bening panggul,
dengan tetap mempertahankan sebanyak mungkin kebutuhan jaringan sehat di
sekitar seperti rektum, vesika urinaria, usus halus, ureter. Radioterapi dengan
dosis kuratif hanya akan diberikan pada stadium I sampai III B. Apabila sel
kanker sudah keluar ke rongga panggul, maka radioterapi hanya bersifat paliatif
yang diberikan secara selektif pada stadium IV A. Terapi penyinaran efektif
untuk mengobati kanker invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada
radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan
menghentikan pertumbuhannya. Ada dua jenis radioterapi yaitu radiasi eksternal
yaitu sinar berasal dari sebuah mesin besar dan penderita tidak perlu dirawat
di rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 hari atau minggu
selama 5-6 minggu. Keduannya adalah melalui radiasi internal yaitu zat
radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul dimasukkan langsung ke dalam
serviks. Kapsul ini dibiarkan selama 1 - 3 hari dan selama itu penderita
dirawat di rumah sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1 - 2
minggu. Efek samping dari terapi penyinaran adalah iritasi rektum dan vagina,
kerusakan kandung kemih dan rektum dan ovarium berhenti berfungsi (Gale &
Charette, 2000).
c. Kemoterapi
Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker
dengan pemberian obat melalui infus, tablet, atau intramuskuler. Obat
kemoterapi digunakan utamanya untuk membunuh sel kanker dan menghambat
perkembangannya. Tujuan pengobatan kemoterapi tegantung pada jenis kanker dan
fasenya saat didiagnosis. Beberapa kanker mempunyai penyembuhan yang dapat
diperkirakan atau dapat sembuh dengan pengobatan kemoterapi. Dalam hal lain,
pengobatan mungkin hanya diberikan untuk mencegah kanker yang kambuh, ini
disebut pengobatan adjuvant. Dalam beberapa kasus, kemoterapi diberikan untuk
mengontrol penyakit dalam periode waktu yang lama walaupun tidak mungkin
sembuh. Jika kanker menyebar luas dan dalam fase akhir, kemoterapi digunakan
sebagai paliatif untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Kemoterapi
secara kombinasi telah digunakan untuk penyakit metastase karena terapi dengan
agen-agen dosis tunggal belum memberikan keuntungan yang memuaskan. Contoh obat
yang digunakan pada kasus kanker serviks antara lain CAP (Cyclophopamide Adrem
ycin Platamin), PVB (Platamin Veble Bleomycin) dan lain –lain (Prayetni, 1997).
I.
Pencegahan
1. Screening
Screening untuk memeriksa perubahan-perubahan
leher rahim sebelum adanya gejala-gejala adalah sangat penting. Screening dapat
membantu dokter mencari sel-sel abnormal sebelum kanker berkembang. Mencari dan
merawat sel-sel abnormal dapat mencegah kebanyakan kanker serviks. Screening juga
dapat membantu mendeteksi kanker secara dini, sehingga perawatan akan menjadi
lebih efektif. Beberapa hal lain yang dapat dilakukan dalam usaha pencegahan
terjadinya kanker serviks antara lain :
2. Vaksin HPV
Sebuah studi menyatakan bahwa kombinasi
vaksinasi HPV dan skrining dapat memberikan manfaat yang besar dalam pencegahan
penyakit ini. Vaksin HPV dapat berguna dan cost-effective untuk mengurangi
kejadian kanker serviks dan kondisi pra- kanker, khususnya pada kasus yang
ringan. Vaksin HPV yang terdiri dari 2 jenis dapat melindungi tubuh dalam
melawan kanker yang disebabkan oleh HPV (tipe 16 dan 18). Salah satu vaksin
dapat membantu menangkal timbulnya kutil di daerah genital yang diakibatkan
oleh HPV 6 dan 11, juga HPV 16 dan 18.
3. Penggunaan kondom
Penggunaan kondom bila berhubungan seks dapat
mencegah penularan penyakit infeksi menular seperti gonorrhe, clamidia, dan
HIV/AIDS.
4. Sirkumsisi pada pria
Sebuah studi menunjukkan bahwa sirkumsisi
pada pria berhubungan dengan penurunan risiko infeksi HPV pada penis dan pada
kasus seorang pria dengan riwayat multiple sexual partners, terjadi penurunan
risiko kanker serviks pada pasangan wanita mereka yang sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar