Minggu, 09 Desember 2018

LAPORAN PENDAHULUAN RESIKO KANKER SERVIKS PADA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA



LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO KANKER SERVIKS PADA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
A.      KONSEP KELUARGA
1.    Keluarga
a.    Pengertian Keluarga
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum: meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap keluarga. (Harmoko, 2012)
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental emosional serta sosial dari tiap anggota keluarga. (Setyowati, 2008)
b.    Struktur Keluarga
Macam-macam struktur keluarga menurut Harmoko (2012), yaitu sebagai berikut:
1)   Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah.
2)   Matrialineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
3)   Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
4)   Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
5)   Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa anak saudara yang menjadi keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
c.    Tipe Keluarga
Menurut Setyowati (2008), tipe keluarga dibagi menjadi 2 yaitu:
1)   Tipe keluarga tradisional
a)      Keluarga inti yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri, dan anak (kandung atau angkat).
b)      Keluarga besar yaitu keluarga inti ditambah dengan keluarga lain yang mempunyai hubungan darah, misalnya: kakek, nenek, keponakan, paman, bibi.
c)      Keluarga “Dyad” yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami dan istri tanpa anak.
d)     Single Parent yaitu suatu rumah tangga yang terdiri satu orang tua (ayah/ ibu) dengan anak (kandung/ angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.
e)      Single Adult yaitu suatu rumah tangga yang hanya terdiri seorang dewasa (misalnya seorang telah dewasa kemudian tinggal di kost untuk bekerja atau kuliah.
2)   Tipe Keluarga non tradisional
a)      The unmarriedteenege mather
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
b)      The steparrent family
Keluarga dengan orang tua tiri.
c)      Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara hidup bersama satu rumah , sumber dan fasilitas yang sama.
d)      Gay and lesbian family
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana suami-istri.
e)      The non marital heterosexual cohibitang family
Keluarga yang hidup bersama dan berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan.
f)        Cohabiting couple
Orang dewasa yang hidup bersama di luar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
g)      Group-marriage family
Beberapa orang dewasa menggunakan alat-alat rumah tangga bersama yang saling merasa sudah menikah, berbagi sesuatu termasuk sexual dan membesarkan anaknya.
d.      Fungsi Keluarga
Menurut Setyowati (2008), fungsi keluarga secara umum adalah:
1)      Fungsi afektif: fungsi yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain.
2)      Fungsi sosialisasi: fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk kehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
3)      Fungsi reproduksi: fungsi untuk mempertahankan generasi.
4)      Fungsi ekonomi: fungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi.
5)      Fungsi pemeliharaan atau pemeliharaan kesehatan: fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga.
e.       Tugas Keluarga dalam bidang kesehatan
Menurut Friedmann dalam Setyowati (2008), tugas kesehatan keluarga ada 5 yaitu:
1)      Mengenal masalah kesehatan.
2)      Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat.
3)      Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
4)      Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.
5)      Mempertahankan hubungan dengan menggunakan fasilitas kesehatan masyarakat.
f.       Tahap Perkembangan Keluarga
Menurut Suprajitno (2012), tahap perkembangan keluarga yaitu sebagai berikut:
1)      Keluarga baru menikah
Tugas perkembangan tahap ini yaitu:
a)      Membina hubungan intim yang memuaskan
b)      Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, dan kelompok sosial
c)      Mendiskusikan rencana memiliki anak.
2)      Keluarga dengan anak baru lahir
Tugas perkembangan tahap ini:
a)      Mempersiapkan menjadi orang tua
b)      Adaptasi dengan perubahan adanya anggota keluarga, interaksi keluarga, hubungan seksual dan kegiatan
c)      Mempertahankan hubungan dalam rangka memuaskan pasangannya.
3)      Keluarga dengan anak usia pra-sekolah
Tugas perkembangan saat ini:
a)      Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, misal kebutuhan tempat tinggal, privasi, dan rasa aman
b)      Membantu anak untuk bersosialisasi
c)      Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain (tua) juga harus terpenuhi
d)     Mempertahankan hubungan yang sehat, baik di dalam atau di luar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar)
e)      Pembagian waktu untuk individu, pasangan, dan anak (biasanya keluarga mempunyai tingkat kerepotan yang tinggi)
f)       Pembagian tanggung jawab anggota keluarga
g)      Merencanakan kegiatan dan waktu untuk menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak
4)      Keluarga dengan usia sekolah
Tugas perkembangan saat ini :
a)      Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah, sekolah, dan lingkungan lebih luas (yang tidak atau kurang diperoleh dari sekolah atau masyarakat)
b)      Mempertahankan keintiman pasangan
c)      Memenuhi kebutuhan yang meningkat, termasuk biaya  kehidupan dan kesehatan anggota keluarga
5)      Keluarga dengan anak remaja
Tugas perkembangan saat ini :
a)      Memberikan kebebasan yang seimbang dan bertanggungjawab mengingat remaja adalah seorang dewasa muda dan mulai memiliki otonomi
b)      Mempertahankan hubungan intim dalam keluarga
c)      Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orangtua.
d)     Hindarkan terjadinya perdebatan, kecurigaan, dan permusuhan
e)      Mempersiapkan perubahan sistem peran dan peraturan (anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anggota keluarga)
6)      Keluarga mulai melepas anak sebagai dewasa
Tugas perkembangan saat ini:
a)      Memperluas jaringan keluarga dari keluarga inti menjadi keluarga besar
b)      Mempertahankan keintiman pasangan
c)      Membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat
d)     Penataan kembali peran orang tua dan kegiatan di rumah
7)      Keluarga usia pertengahan
Tugas perkembangan saat ini:
a)        Mempertahankan kesehatan individu dan pasangan usia pertengahan
b)        Mempertahankan hubungan yang serasi dan memuaskan dengan anak-anaknya dan sebaya
c)        Meningkatkan keakraban pasangan
8)      Keluarga usia tua
Tugas perkembangan saat ini:
a)   Mempertahankan suasana kehidupan rumah tangga yang saling menyenangkan pasangannya
b)   Adaptasi dengan perubahan yang akan terjadi: kehilangan pasangan, kekuatan fisik, dan penghasilan keluarga
c)   Mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat
d)  Melakukan life review masa lalu.

B.        Latar Belakang
Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim atau serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina). Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35 - 55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim. Karsinoma serviks biasanya timbul pada zona transisional yang terletak antara epitel sel skuamosa dan epitel sel kolumnar. Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyebab kematian terbanyak akibat penyakit kanker di negara berkembang. Sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah bila program skrining sitologi dan pelayanan kesehatan diperbaiki. Diperkirakan setiap tahun dijumpai sekitar 500.000 penderita baru di seluruh dunia dan umumnya terjadi di negara berkembang. Penyakit ini berawal dari infeksi virus yang merangsang perubahan perilaku sel epitel serviks (Geovani, 2011).
Kanker leher rahim (Ca Cervix) merupakan penyakit kanker kedua terbanyak yang dialami oleh wanita di seluruh dunia. Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), 85% dari kasus kanker di dunia, yang berjumlah sekitar 493.000 dengan 273.000 kematian, terjadi di Negara-negara berkembang, dan Indonesia merupakan mempunyai jumlah pengidap kanker serviks kedua terbesar setelah Cina.
Di seluruh dunia, di perkirakan terjadi sekitar 500.000 kanker serviks baru dan 250.000 kematian setiap tahunnya yang kurang lebih 80% terjadi di negara sedang berkembang. Di Indonesia, insidens kanker serviks di perkirakan kurang lebih 40.000 kasus pertahun dan masih merupakan kanker wanita yang tersering. Dari jumlah itu, 50% kematian terjadi di negara - negara berkembang. Hal itu terjadi karena pasien datang dalam stadium lanjut. Menurut data Departemen Kesehatan RI, penyakit kanker leher rahim saat ini menempati urutan pertama daftar kanker yang di derita kaum wanita. Saat ini di Indonesia ada sekitar 100 kasus per 100 ribu penduduk atau 200 ribu kasus setiap tahunnya. Kanker serviks yang sudah masuk ke stadium lanjut sering menyebabkan kematian dalam jangka waktu relatif cepat. Selain itu, lebih dari 70% kasus yang datang ke rumah sakit di temukan dalam keadaan stadium lanjut. Selama kurun waktu 5 tahun, usia penderita antara 30 - 60 tahun, terbanyak antara 45 - 50 tahun. Periode laten dari fase prainvasif untuk menjadi invasif memakan waktu sekitar 10 tahun. Hanya 9% dari wanita berusia <35 tahun menunjukkan kanker serviks yang invasif pada saat di diagnosis, sedangkan 53% dari kanker insitu terdapat pada wanita di bawah usia 35 tahun.

C.        Definisi Kanker Serviks
Kanker serviks adalah karsinoma pada leher rahim dan menempati urutan pertama di dunia. (Sjamjuhidayat, 2005). Kanker serviks adalah keganasan nomor tiga paling sering dari alat kandungan dan menempati urutan ke delapan dari keganasan pada perempuan di Amerika (Yatim, 2005). Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 2011). Kanker serviks adalah keadaan di mana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan epitel serviks uteri.(Price dan Wilson, 1995) Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa kanker serviks adalah kanker leher rahim yang paling ganas dari beberapa kanker pada wanita yang lain.

D.        Etiologi dan Faktor Resiko
Etiologi kanker servik idiopatik atau belum diketahui pasti. Ada beberapa faktor resiko dan faktor predisposisi yang menonjol yaitu :
1.     Perilaku seksual
Banyak faktor yang disebut - sebut mempengaruhi terjadinya kanker serviks. Pada berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa golongan wanita yang mulai melakukan hubungan seksual pada usia < 20 tahun atau mempunyai pasangan seksual yang berganti-ganti lebih berisiko untuk menderita kanker serviks. Faktor risiko lain yang penting adalah hubungan seksual suami dengan wanita tuna susila (WTS) dan dari sumber itu membawa penyebab kanker (karsinogen) kepada isterinya. Data epidemiologi yang tersusun sampai akhir abad 20, menyingkap kemungkinan adanya hubungan antara kanker serviks dengan agen yang dapat menimbulkan infeksi. Keterlibatan peranan pria terlihat dari adanya korelasi antara kejadian kanker serviks dengan kanker penis di wilayah tertentu. Lebih jauh meningkatnya kejadian tumor pada wanita monogami yang suaminya sering berhubungan seksual dengan banyak wanita lain menimbulkan konsep “Pria Berisiko Tinggi” sebagai vektor dari agen yang dapat menimbulkan infeksi. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan kanker serviks, tetapi penyakit ini sebaiknya digolongkan ke dalam penyakit akibat hubungan seksual (PHS). Penyakit kelamin dan keganasan serviks keduanya saling berkaitan secara bebas, dan diduga terdapat korelasi non-kausal antara beberapa penyakit akibat hubungan seksual dengan kanker serviks.
  1. Kontrasepsi
Kondom dan diafragma dapat memberikan perlindungan. Kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan risiko relatif 1,53 kali. WHO melaporkan risiko relatif pada pemakaian kontrasepsi oral sebesar 1,19 kali dan meningkat sesuai dengan lamanya pemakaian.
  1. Merokok
Tembakau mengandung bahan-bahan karsinogen baik yang dihisap sebagai rokok/sigaret atau dikunyah. Asap rokok menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon heterocyclic nitrosamines. Pada wanita perokok konsentrasi nikotin pada getah serviks 56 kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum. Efek langsung bahan-bahan tersebut pada serviks adalah menurunkan status imun lokal sehingga dapat menjadi kokarsinogen infeksi virus.
  1. Nutrisi
Antioksidan dapat melindungi DNA atau RNA terhadap pengaruh buruk radikal bebas yang terbentuk akibat oksidasi karsinogen bahan kimia. Banyak sayur dan buah mengandung bahan-bahan antioksidan dan berkhasiat mencegah kanker misalnya advokat, brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat. Dari beberapa penelitian ternyata defisiensi asam folat (folic acid), vitamin C, vitamin E, beta karoten/retinol dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker serviks. Vitamin E, vitamin C dan beta karoten mempunyai khasiat antioksidan yang kuat. Vitamin E banyak terdapat dalam minyak nabati (kedelai, jagung, biji-bijian dan kacang - kacangan). Vitamin C banyak terdapat dalam sayur-sayuran dan buah-buahan.
  1. Paritas (Jumlah Kelahiran)
Semakin tinggi risiko pada wanita dengan banyak anak, apalagi dengan jarak persalinan yang terlalu pendek. Dari berbagai literatur yang ada, seorang perempuan yang sering melahirkan (banyak anak) termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena penyakit kanker leher rahim. Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksinya yang akhirnya dampak dari luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab terjadinya penyakit kanker leher rahim.
  1. Usia >35 tahun
Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker leher rahim. Semakin tua usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker laher rahim. Meningkatnya risiko kanker leher rahim pada usia lanjut merupakan gabungan dari meningkatnya dan bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta makin melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat usia.
  1. Usia terlalu muda
Menikah pada usia kurang 20 tahun dianggap terlalu muda untuk melakukan hubungan seksual dan berisiko terkena kanker leher rahim 10 - 12 kali lebih besar daripada mereka yang menikah pada usia > 20 tahun. Hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang wanita benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat dari sudah menstruasi atau belum. Kematangan juga bergantung pada sel-sel mukosa yang terdapat di selaput kulit bagian dalam rongga tubuh. Umumnya sel - sel mukosa baru matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang wanita yang menjalin hubungan seks pada usia remaja, paling rawan bila dilakukan di bawa h usia 16 tahun. Hal ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa pada serviks. Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang. Artinya, masih rentan terhadap rangsangan sehingga tidak siap menerima rangsangan dari luar termasuk zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena masih rentan, sel-sel mukosa bisa berubah sifat menjadi kanker. Sifat sel kanker selalu berubah setiap saat yaitu mati dan tumbuh lagi. Dengan adanya rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel yang mati, sehingga perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah sifat menjadi sel kanker. Lain halnya bila hubungan seks dilakukan pada usia di atas 20 tahun, dimana sel-sel mukosa tidak lagi terlalu rentan terhadap perubahan.

E.         Patofisiologi
Kanker serviks biasa timbul di daerah yang disebut squamo - columnar junction (SCJ), yaitu batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis serviks, dimana secara histologik terjadi perubahan dari epitel ektoserviks yaitu epitel skuamosa berlapis dengan epitel endoserviks yaitu epitel kuboid atau kolumnar pendek selapis bersilia. Letak SCJ dipengaruhi oleh faktor usia, aktivitas seksual dan paritas. Pada wanita muda SCJ berada di luar ostium uteri eksternum, sedangkan pada wanita berusia di atas 35 tahun SCJ berada di dalam kanalis serviks, Oleh karena itu pada wanita muda, SCJ yang berada di luar ostium uteri eksternum ini rentan terhadap faktor luar berupa mutagen yang akan displasia dari SCJ tersebut. Pada wanita dengan aktivitas seksual tinggi, SCJ terletak di ostium eksternum karena trauma atau retraksi otot oleh prostaglandin.
Pada masa kehidupan wanita terjadi perubahan fisiologis pada epitel serviks, epitel kolumnar akan digantikan oleh epitel skuamosa yang diduga berasal dari cadangan epitel kolumnar. Proses pergantian epitel kolumnar menjadi epitel skuamosa disebut proses metaplasia dan terjadi akibat pengaruh pH vagina yang rendah. Aktivitas metaplasia yang tinggi sering dijumpai pada masa pubertas. Akibat proses metaplasia ini maka secara morfogenetik terdapat 2 SCJ, yaitu SCJ asli dan SCJ baru yang menjadi tempat pertemuan antara epitel skuamosa baru dengan epitel kolumnar. Daerah di antara kedua SCJ ini disebut daerah transformasi.
Penelitian akhir-akhir ini lebih memfokuskan virus sebagai salah satu factor penyebab yang penting, terutama virus DNA. Pada proses karsinogenesis asam nukleat virus tersebut dapat bersatu ke dalam gen dan DNA sel tuan rumah sehingga menyebabkan terjadinya mutasi sel, sel yang mengalami mutasi tersebut dapat berkembang menjadi sel displastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut displasia. Dimulai dari displasia ringan, displasia sedang, displasia berat dan karsinoma in-situ dan kemudian berkembang menjadi karsinoma invasif. Tingkat displasia dan karsinoma in-situ dikenal juga sebagai tingkat pra-kanker. (Sjamsuhidajat,1997)

F.         Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala stadium awal Ca Serviks jarang terdeteksi. Pada tahap lanjut, tanda dan gejalanya lebih jelas terlihat, diantaranya adalah:
  1. Perdarahan spontan
  2. Hematuria
  3. Nyeri pada pinggang bagian bawah
  4. Keluar keputihan atau cairan encer dari kelamin wanita
  5. Amenorhea
  6. Lemah
  7. Hipermenorhea (Mardjikoen, 1999)

G.       Komplikasi
1.       Fistula uretra
2.       Disfungsi kandung kemih
3.       Anemia trombositopenis
4.       Mual,muntah, anoreksia
5.       Infeksi pelvis
6.       Sistitis dan kulit kering
7.       Fistula rektovaginal. (Mardjikoen, 1999)

H.       Penatalaksanaan Medis
1.       Pengobatan
a.       Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar), seluruh kanker sering kali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun melalui LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi. Dengan pengobatan tersebut, penderita masih bisa memiliki anak. Karena kanker bisa kembali kambuh, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani histerektomi. Pembedahan merupakan salah satu terapi yang bersifat kuratif maupun paliatif. Kuratif adalah tindakan yang langsung menghilangkan penyebabnya sehingga manifestasi klinik yang ditimbulkan dapat dihilangkan. Sedangkan tindakan paliatif adalah tindakan yang berarti memperbaiki keadaan penderita. Histerektomi adalah suatu tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengangkat uterus dan serviks (total) ataupun salah satunya (subtotal). Biasanya dilakukan pada stadium klinik IA sampai IIA (klasifikasi FIGO). Umur pasien sebaiknya sebelum menopause, atau bila keadaan umum baik, dapat juga pada pasien yang berumur kurang dari 65 tahun. Pasien juga harus bebas dari penyakit umum (resiko tinggi) seperti penyakit jantung, ginjal dan hepar (Tapan, 2005).
b.      Terapi penyinaran (radioterapi)
Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks serta mematikan parametrial dan nodus limpa pada pelvik. Kanker serviks stadium II B, III, IV sebaiknya diobati dengan radiasi. Metoda radioterapi disesuaikan dengan tujuannya yaitu tujuan pengobatan kuratif atau paliatif. Pengobatan kuratif ialah mematikan sel kanker serta sel yang telah menjalar ke sekitarnya atau bermetastasis ke kelenjar getah bening panggul, dengan tetap mempertahankan sebanyak mungkin kebutuhan jaringan sehat di sekitar seperti rektum, vesika urinaria, usus halus, ureter. Radioterapi dengan dosis kuratif hanya akan diberikan pada stadium I sampai III B. Apabila sel kanker sudah keluar ke rongga panggul, maka radioterapi hanya bersifat paliatif yang diberikan secara selektif pada stadium IV A. Terapi penyinaran efektif untuk mengobati kanker invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya. Ada dua jenis radioterapi yaitu radiasi eksternal yaitu sinar berasal dari sebuah mesin besar dan penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 hari atau minggu selama 5-6 minggu. Keduannya adalah melalui radiasi internal yaitu zat radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul dimasukkan langsung ke dalam serviks. Kapsul ini dibiarkan selama 1 - 3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1 - 2 minggu. Efek samping dari terapi penyinaran adalah iritasi rektum dan vagina, kerusakan kandung kemih dan rektum dan ovarium berhenti berfungsi (Gale & Charette, 2000).
c.       Kemoterapi
Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker dengan pemberian obat melalui infus, tablet, atau intramuskuler. Obat kemoterapi digunakan utamanya untuk membunuh sel kanker dan menghambat perkembangannya. Tujuan pengobatan kemoterapi tegantung pada jenis kanker dan fasenya saat didiagnosis. Beberapa kanker mempunyai penyembuhan yang dapat diperkirakan atau dapat sembuh dengan pengobatan kemoterapi. Dalam hal lain, pengobatan mungkin hanya diberikan untuk mencegah kanker yang kambuh, ini disebut pengobatan adjuvant. Dalam beberapa kasus, kemoterapi diberikan untuk mengontrol penyakit dalam periode waktu yang lama walaupun tidak mungkin sembuh. Jika kanker menyebar luas dan dalam fase akhir, kemoterapi digunakan sebagai paliatif untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Kemoterapi secara kombinasi telah digunakan untuk penyakit metastase karena terapi dengan agen-agen dosis tunggal belum memberikan keuntungan yang memuaskan. Contoh obat yang digunakan pada kasus kanker serviks antara lain CAP (Cyclophopamide Adrem ycin Platamin), PVB (Platamin Veble Bleomycin) dan lain –lain (Prayetni, 1997).

I.          Pencegahan
1.       Screening
Screening untuk memeriksa perubahan-perubahan leher rahim sebelum adanya gejala-gejala adalah sangat penting. Screening dapat membantu dokter mencari sel-sel abnormal sebelum kanker berkembang. Mencari dan merawat sel-sel abnormal dapat mencegah kebanyakan kanker serviks. Screening juga dapat membantu mendeteksi kanker secara dini, sehingga perawatan akan menjadi lebih efektif. Beberapa hal lain yang dapat dilakukan dalam usaha pencegahan terjadinya kanker serviks antara lain :
2.       Vaksin HPV
Sebuah studi menyatakan bahwa kombinasi vaksinasi HPV dan skrining dapat memberikan manfaat yang besar dalam pencegahan penyakit ini. Vaksin HPV dapat berguna dan cost-effective untuk mengurangi kejadian kanker serviks dan kondisi pra- kanker, khususnya pada kasus yang ringan. Vaksin HPV yang terdiri dari 2 jenis dapat melindungi tubuh dalam melawan kanker yang disebabkan oleh HPV (tipe 16 dan 18). Salah satu vaksin dapat membantu menangkal timbulnya kutil di daerah genital yang diakibatkan oleh HPV 6 dan 11, juga HPV 16 dan 18.
3.       Penggunaan kondom
Penggunaan kondom bila berhubungan seks dapat mencegah penularan penyakit infeksi menular seperti gonorrhe, clamidia, dan HIV/AIDS.
4.       Sirkumsisi pada pria
Sebuah studi menunjukkan bahwa sirkumsisi pada pria berhubungan dengan penurunan risiko infeksi HPV pada penis dan pada kasus seorang pria dengan riwayat multiple sexual partners, terjadi penurunan risiko kanker serviks pada pasangan wanita mereka yang sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar